Rabu, 23 Desember 2009

KETIKA SETAN BERTEPUK TANGAN

Matamu nanar memandang sekeliling
Merah merona urat mata
Seolah menantang siapa saja
Setiap kata tercium aroma sampah
Gontai dalam setiap melangkah
Terus bicara dalam celoteh yang tak nyata

"Kapal goyang kapten" teriakmu
Dengan bangga sambil mengepalkan tangan
Sumpah serapah engkau ucapkan
Segala jenis setan belang hingga penghuni kebon binatang

Ketika langkah sudah terseret
Jatuh, luluh, lunglai tak berdaya
Mana nuansa sangarmu ?
Mana gaya gagahmu ?
Mana keberanianmu yang semu ?
Hanya segitu ....

Sedetik lalu engkau berharu biru
Sedetik kemudian terjungkal mencium debu
Apa yang engkau cari kawan ?
Setia kawan ?
Atau sebuah pengakuan ?
Atau mungkin sebuah pembuktian keberanian

Congkak manusia mengarah pada nestapa
Setan tertawa ketika manusia bergelimang dosa
Bujuk rayunya berhasil dengan sempurna
Aroma neraka disulap jadi aroma surga
Kemudian, terjerembab kita sendiri dalam nestapa

Siapa yang akan akan pedulikan saat kita sendirian ?
Tak ada teman, tak ada kawan
Semua akan kita tanggung sendirian
Dalam liang yang gelap tak ada lagi sesal
Tinggal tunggu pengadilan Tuhan

Kawan ...
Jangan gadaikan kebahagiaanmu
Hanya dengan se-sloki ciu ...

23 Desember 2009/Roja

0 komentar:

Poskan Komentar