Bulan Purnama terbit di atas kita
dengan terbitnya, tenggelam seluruh bulan lainnya
Rupawan seindah wajahmu tak pernah kami menyaksikannya -
wajah ceria penuh sukacita!
Engkau mentari, engkau lah purnama
engkau cahaya di atas segala cahaya
Engkau pembangkit semangat dan daya
engkau lentera hati kita
Wahai kekasihku, wahai Muhammad junjunganku!
wahai bintang dari Timur dan Barat!
wahai, engkau sang pendukung! Wahai yang terpuji!
wahai, Imam dua kiblat!
Ia yang sempat melihat wajahmu betapa untungnya!
wahai engkau yang berbudi mulia pada orangtua.
Mata-airmu yang sejuk dan suci adalah tempatku mereguk minum di hari kebangkitan nanti.
Kami tak pernah melihat unta-unta dari mana pun asalnya - berjalan gembira, kecuali saat mereka menujumu semata.
Awan-awan melindungimu dan tuan rumah mulia melimpahkan segala hadiah kehormatan bagimu saja.
Pepohonan mendatangimu menitikkan airmata
merundukkan diri antara dua tanganmu
Dan kijang-kijang yang melesat itu, wahai kekasihku,
mereka pun datang untuk perlindunganmu.
Bila semua karavan telah siap sedia
saat keberangkatan telah diumumkan bagi semua
Kudekati mereka dengan basah airmata sembari berkata: "tunggu sejenak, wahai tuan kepala,
dan kirimkan untukku beberapa surat ini saja".
wahai, rasa rindu yang tak tertanggungkan!
Di tengah tujuan nampak rumah-rumah hunian
waktunya malam hari dan saat awal subuh sekali
di puncak gembira semua makhluk di alamraya ini
oleh Sayyid Ja'far ibn Hasan ibn 'Abdul Karim al-Barzanji
5 Januari 2010/Roja
Selasa, 05 Januari 2010
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar